• Berita Ekonomi
  • Harga Cabai Melonjak, Menteri Amran: Kita Terlalu Cengeng

Harga Cabai Melonjak, Menteri Amran: Kita Terlalu Cengeng

  • Harga Cabai Melonjak, Menteri Amran: Kita Terlalu Cengeng
  • Harga Cabai Melonjak, Menteri Amran: Kita Terlalu Cengeng
Ekonomi

Petani memetik cabai rawit matang di sentra pertanian Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, 6 Januari 2017. Meroketnya harga cabai rawit karena sedikitnya panen dan serangan penyakit patek. TEMPO/Prima Mulia

  • Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengklaim jika harga cabai sudah mulai turun dari Rp 100 ribu menjadi Rp 30 ribu per kilogram di pasaran. Oleh karena itu, ia meminta agar kenaikan harga ini jangan dibesar-besarkan.

"Kita terlalu cengeng, jadi kita bingung, ujar Amran di Kabupaten Maros Sulawesi Selatan, Sabtu 7 januari 2017. Hati-hati, begitu aku fokus cabai, yang lain bisa berantakan. Menurut dia, persoalan kenaikan harga cabai itu tidak mudah untuk diselesaikan secepatnya.

Sebagai solusi kenaikan harga cabai belakangan ini, Amran menyarankan tiap keluarga untuk menanam cabai di lingkungan rumahnya. Tanamlah cabai di rumah. Tanam 10 pohon nanti aku kasih bibit. Itu solusi permanen, ucapnya.

Menurut dia, produksi cabai saat ini tetap cukup. Namun karena begitu kering atau bukan musim hujan, maka harga cabai langsung jeblok. Begitu juga sebaliknya.

Amran menjelaskan bahwa dari 14 komoditas, hanya satu yang harganya naik yakni cabai. Untuk itu, pemerintah akan mengantisipasinya dengan memotong mata rantai pasoknya. "Sebanyak 13 komoditas harganya stabil kok. Bahkan harga beras turun 0,9 persen."

Dari 14 komoditas strategi, menurut Amran, komoditas beras yang notabene adalah paling vital, harganya tetap stabil. "Tanpa beras, mati orang, sakit. Jadi tolong, cabai itu masih terkendali. Urusan kita bukan cuman satu saja," katanya.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita sebelumnya mengatakan kesenjangan stok pangan antardaerah menyebabkan lonjakan harga yang tak terkendali. Dia merujuk pada tingginya harga cabai yang bahkan menembus Rp 200 ribu per kilogram di Samarinda. "Padahal di situs online harga cabai cuma berkisar Rp 28-30 ribu per kilogram," kata Enggar di Kota Batu, Jawa Timur, Jumat pekan lalu.

Menurut Enggar, semakin tinggi harga cabai di suatu daerah membuktikan semakin sedikitnya cabai yang dihasilkan. Karena itu, Enggar akan meminta PT Badan Urusan Logistik (Bulog) dan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) membeli cabai petani. "Gorontalo stoknya melimpah, dari sana akan kami salurkan ke daerah lain," tuturnya.

Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution tak menampik sulitnya mengurai rantai bisnis produk pangan. Dia mengatakan transaksi online bisa melepas morat-marit harga pangan. Dia merujuk pada sektor perdagangan di sektor retail yang amat menggeliat karena e-commerce. "Produktivitas dan kesejahteraan pada akhirnya meningkat," tutur Darmin di tempat yang sama.




Warta Sejenis

memuat...

Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!