Bursa Saham Asia Menguat Jelang Konferensi Pers Trump

Placeholder
Ekonomi

Tokyo - Bursa saham Asia mendekati posisi tertinggi dalam dua bulan pada Rabu, karena investor menunggu konferensi pers yang akan digelar Presiden Amerika Serikat (AS) terpilih Donald Trump untuk pertama kalinya sejak pemilu. Para investor mencari setiap petunjuk atas kebijakan-kebijakan Trump tentang pajak, pengeluaran fiskal, perdagangan, dan mata uang internasional.

Sementara rencananya untuk pemotongan pajak dan belanja infrastruktur telah mendorong pergerakan saham AS dan USD, dan laporan proteksionisnya telah membuat banyak investor waspada. Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang sedikit berubah pada awal perdagangan Rabu. Indeks Jepang Nikkei N225 berdetak naik 0,2 persen.

Di Wall Street, indeks S&P 500 berakhir datar pada perdaganga Selasa waktu setempat, karena investor melihat musim laba yang dimulai minggu ini untuk menilai apakah tingkat rekor dibenarkan atau tidak. Karenanya, Wall Street terus akan bergerak seiring dengan sejumlah sentimen yang ada.

"Ada harapan bahwa pemotongan pajak Trump dan belanja infrastruktur akan meningkatkan perekonomian AS, yang tentunya harus mendukung pasar," kata Ahli Strategi Senior Sumitomo Mitsui Asset Management Masahiro Ichikawa, seperti dikutip dari Reuters, Rabu (11/1/2017).

Di sisi lain, lanjut Ichikawa, jika Donald Trump mengambil sikap garis keras untuk Tiongkok sejalan dengan janji-janji kampanyenya, maka Tiongkok akan mungkin mengambil langkah-langkah balasan. Tentu hal semacam itu perlu diperhatikan karena berkaitan dengan pergerakan ekonomi dunia di masa mendatang.

"Tiongkok mungkin mengambil langkah-langah balasan dan meningkatkan kekhawatiran tentang ketegangan antara AS dan Tiongkok," tegasnya. Trump telah bersumpah untuk memberikan tarif besar impor dari Tiongkok ke AS.

Saat ini, Ketua DPR AS Paul Ryan dan anggota atas tim transisi Presiden AS terpilih Donald Trump sedang membahas rencana kontroversial untuk impor pajak. Para ekonom telah memperingatkan langkah-langkah proteksionis bisa menahan perdagangan internasional dan memperlambat pertumbuhan ekonomi global.



Warta Sejenis

memuat...

Warta Populer

Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!